Address
Hai, guys! Pasti kalian sering banget kan lihat majalah, buku, poster keren, atau kemasan produk dengan desain yang eye-catching? Nah, di balik semua itu, ada proses panjang yang bikin mereka jadi nyata. Bukan cuma digital printing aja lho yang jago, tapi ada juga “kakak” tertua di dunia percetakan yang sampai sekarang masih eksis dan digandrungi: Percetakan Konvensional!
Mungkin kalian mikir, “Apaan tuh percetakan konvensional? Udah kuno kali ya?” Eits, jangan salah! Percetakan konvensional ini justru jadi tulang punggung banyak industri dan punya keunggulan yang susah banget digantiin, apalagi kalau cetaknya dalam jumlah banyak. Yuk, kita intip lebih dekat apa itu percetakan konvensional, gimana kerjanya, dan kenapa dia masih juara di era digital ini!
Mengenal Lebih Dekat Percetakan Konvensional
Secara sederhana, percetakan konvensional itu adalah metode pencetakan yang menggunakan media fisik seperti plat, stensil, atau silinder berukir untuk mentransfer tinta ke permukaan material. Beda banget sama digital printing yang langsung cetak dari file komputer tanpa perantara plat. Jadi, ibaratnya, kalau digital itu print pakai printer di rumah, konvensional itu butuh persiapan “cetakan” khusus dulu sebelum bisa nge-print masal.
Persiapan inilah yang bikin percetakan konvensional jadi sangat efisien dan ekonomis untuk cetakan dalam jumlah besar. Sekali plat atau stensilnya siap, cetak ribuan bahkan jutaan lembar pun bisa dilakukan dengan biaya per lembar yang sangat murah. Yuk, kita kenalan sama beberapa jenisnya yang paling populer!
1. Offset Printing: Si Paling Populer
Kalau ngomongin percetakan konvensional, offset printing ini juaranya! Hampir 80% materi cetakan di dunia ini pakai metode offset. Kenapa? Karena kualitasnya super tajam, warnanya konsisten, dan paling efisien buat cetak dalam jumlah yang sangat banyak. Bayangin aja buku-buku tebal, majalah glossy, brosur, kartu nama, sampai kemasan kotak, kebanyakan lahir dari mesin offset.
Gimana sih kerjanya? Offset printing ini unik karena pakai prinsip “minyak dan air nggak bisa nyatu”. Gambar atau tulisan di plat akan menarik tinta, sementara bagian yang tidak dicetak akan menarik air. Tinta kemudian ditransfer dulu ke blanket silinder (semacam karet), baru deh dari blanket itu ditransfer ke kertas. Proses ini bikin hasil cetakan jadi bersih, tajam, daggak gampang luntur.
2. Flexography: Raja Kemasan Fleksibel
Pernah makan snack atau minum susu kotak? Nah, kemasaya itu sering banget dicetak pakai flexography atau sering disebut flexo. Metode ini pakai plat yang terbuat dari bahan fleksibel (biasanya karet atau polimer) dengan area cetak yang timbul. Plat ini berputar dan langsung mentransfer tinta ke permukaan bahan.
Flexo sangat cocok buat cetak di bahan-bahan yang permukaaya nggak rata atau fleksibel, kayak plastik, aluminium foil, kain, sampai kardus. Makanya, kalau kamu lihat kemasan makanan, kantong belanja, label botol, atau koran, besar kemungkinan itu hasil cetakan flexo. Kecepataya gokil dan bisa cetak di roll material yang panjang!
3. Gravure Printing: Kualitas Premium untuk Massal
Kalau kamu suka ngelihat gambar di majalah fashion yang super detail, atau kemasan produk mewah yang warnanya nendang banget, mungkin itu hasil dari gravure printing. Metode ini pakai silinder logam yang permukaaya diukir (di-engrave) dengan gambar atau tulisan yang akan dicetak.
Gravure printing dikenal punya kualitas gambar yang paling tinggi dan bisa nge-handle cetakan super masif, seperti katalog belanja jutaan eksemplar, kemasan rokok, atau label minuman. Tintanya juga sangat tebal dan awet. Kekurangaya? Biaya plat silindernya mahal banget di awal, jadi cuma worth it kalau cetaknya bener-bener dalam jumlah gila-gilaan.
4. Screen Printing (Sablon): Sang Fleksibel Serbaguna
Nah, kalau yang ini pasti udah nggak asing lagi! Sablon atau screen printing sering banget dipakai buat cetak kaos, hoodie, poster, spanduk, sampai stiker. Cara kerjanya pakai jaring (screen) yang salah satu bagiaya diblokir, sementara bagian lain yang jadi gambar dibiarkan berlubang.
Tinta kemudian ditekan melewati jaring yang berlubang itu ke permukaan material. Screen printing ini unik karena bisa cetak di hampir semua jenis permukaan: kain, kayu, logam, kaca, plastik, bahkan keramik. Hasilnya tebal, warnanya solid, dan cocok banget buat cetakan dengan warna spot (khusus) atau desain yang nggak terlalu rumit.
Kenapa Percetakan Konvensional Masih Jadi Pilihan?
Meskipun digital printing makin canggih, percetakan konvensional tetap punya tempat istimewa dan sering jadi pilihan utama karena beberapa alasan:
- Kualitas dan Konsistensi Warna: Untuk cetakan dalam jumlah besar, warna yang dihasilkan mesin konvensional lebih konsisten dari awal sampai akhir, apalagi dengan penggunaan tinta Pantone. Detailnya juga super tajam.
- Ekonomis untuk Volume Besar: Biaya awal mungkin tinggi karena bikin plat, tapi kalau udah cetak ribuan atau jutaan lembar, biaya per lembarnya jadi jauh lebih murah dibanding digital printing.
- Fleksibilitas Bahan: Bisa cetak di berbagai jenis kertas (dari yang paling tipis sampai paling tebal), plastik, logam, kain, bahkan material non-standar laiya.
- Efek Spesial: Lebih mudah untuk menambahkan finishing khusus seperti emboss, deboss, spot UV, atau hot foil stamping yang bikin cetakan terlihat lebih mewah dan premium.
Jadi, meskipuamanya “konvensional” dan terkesan tradisional, metode percetakan ini jauh dari kata ketinggalan zaman. Justru, dia adalah pondasi utama yang terus berevolusi dan tetap jadi pilihan cerdas untuk berbagai kebutuhan cetak, terutama yang membutuhkan volume tinggi dengan kualitas prima. Next time kamu pegang buku atau kemasan produk, inget ya, bisa jadi itu hasil kerja keras si “tua-tua keladi” yang super keren ini!


